Author : DaeKim
Title : Last Gift
Genre : Romance, sad
Cast : Lee Heerim
Kim Jong dae
Byun Baekhyun
Aku
menatap kotak kecil yang berada di genggangmanku. Senyumku menyungging saat
mengingat siapa yang memberikan kotak ini. tak terasa air mataku menetes. Entah
kenapa aku selalu menangis jika melihat kotak kecil ini. Sebenarnya bukan masalah
kotak ini, tapi seseorang yang memberikan kotak kecil ini. Ingatanku kembali pada
kejadian dua
bulan lalu. Kejadian dimana seseorang yang kusia-siakan
menyelamatkan nyawaku.
***
Flashback
Seperti biasa, dia selalu mengikuti kemana aku pergi. Argh…
sebenarnya ada apa dengan orang itu. Aku berbalik kesal dan menatapnya garang.
Sedangkan dia hanya tersenyum manis seperti biasa.
“Jongdae-ssi,
kenapa kau mengikutiku terus? Sebenarnya apa maumu?”
Bukannya
menjawab, dia malah mendekatiku. Tangannya
sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Aku
memutar mataku kesal.
“Cepatlah!
Aku tidak ada waktu!” sentakku kesal. Sebenarnya
dia itu orang seperti apa. Padahal aku sudah menyentaknya berkali-kali, bahkan
aku selalu meledeknya. Tapi dia sama sekali tidak merasa kesal dan membenciku.
Malah sebaliknya, dia semakin gencar mengikutiku.
“Aku hanya ingin memberimu ini,” kulihat Jongdae memberiku sebuah kotak
berukuran sedang. Aku melotot kesal. Jadi dia menghantuiku hanya untuk
memberiku kotak bodoh ini?
“Ck… kau sudah membuang-buang waktuku!
Sudahlah, lupakan kadomu itu. Benar-benar menganggu!” dengan kesal kubuang kotak
pemberiannya. Aku
kembali melanjutkan perjalananku yang
tertunda. Saat berada ditikungan aku melirik
kebelakang. Jongdae itu
masih berdiri ditempatnya sambil memegang kotak yang aku buang tadi. Dia
tersenyum. Dia tersenyum? Walaupun aku sudah membentaknya dia masih saja
tersenyum. Anak aneh.
***
Setelah
kejadian membentak dan membuang hadiah pemberiannya kini aku bisa bebas. Kim Jongdae, anak itu tidak membuntutiku
lagi. Aku patut bersyukur, setidaknya dia sadar dan tidak akan pernah membututi
aku lagi.
“Tumben
‘pangeranmu’ itu tidak membututimu lagi,
Heerim-ah,” aku hanya tersenyum kecut
mendengar ledekan Jae Hee.
“Mungkin anak itu sadar jika penantiannya
sia-sia,” gumanku yang sepertinya dapat didengar telinga mereka. Kini aku
sedang berkumpul dengan ketiga sahabatku. Mereka selalu saja meledekku dengan Jongdae.
“Kau selalu saja menghindar, Heerim. Dia itu
namja yang baik. Setidaknya itu yang kudengar dari Luhan sunbae,” masih kuingat
kata-kata Yonhae. Ya, aku tahu dia itu namja yang baik. Aku juga sudah dengar
dari Baekhyun, sepupuku sekaligus teman dekat Jongdae.
“Melamunkan Jongdae, Heerim?”
“Eh…”
Mereka
bertiga tertawa melihat tampang polosku. Aku hanya menatap mereka bingung.
“Aku tidak melamunkan anak aneh itu. Ck… buat apa aku
melamunkannya,” elakku. Walau sebenarnya aku memang sedang melamunkannya.
“Lantas,
kau sedang melamunkan apa?” giliran
Soorim yang menggodaku. Ckck…
mereka bertiga itu hobi sekali menggodaku.
“Aku pulang duluan,” untunglah otakku cepat
berpikir. Jadi mereka tidak akan curiga.
“Jam segini? Tumben sekali,” cibir Yonhae.
“Memangnya tidak boleh, huh? Sudahlah, aku sedang tidak
mood untuk mendengar
ocehan kalian,” aku segera menyambar
tas selempangku dan keluar kelas. Hari yang menyebalkan. Aku melihat jam tanganku.
Masih pukul tiga. Benar juga, tumben sekali aku pulang seawal ini. Biasanya aku
selalu pulang pukul lima lebih.
“Enaknya
aku pergi kemana dulu,” gumanku kesal. Dengan sedikit malas aku membawa kakiku
ke lapangan basket. Disana banyak sekali gadis yang sedang menonton permainan
basket.
“Hei, Heerim-ah,”
Aku
membulatkan mataku saat melihat siapa yang memanggilku tadi. Jongdae. Argh… kenapa namja itu
hadir lagi. Bukannya
dia sudah tidak mengikutiku lagi hari ini.
“Mau apa lagi,” tanyaku dingin. Dia hanya
menujukkan senyum manisnya. Walaupun aku tidak suka dengannya, ku akui dia
memiliki senyum yang manis.
“Tidak. Aku hanya ingin memberikanmu hadiah
ini. Kumohon terimalah,” rengeknya. Dia mulai berani menggenggam tanganku.
“Tidak
mau! Kau ini apa-apaan, sih?”
aku menyentak tangannya dengan kasar. Moodku yang tadinya jelek sekarang
bertambah jelek.
“Kim Jongdae-ssi,
berhentilah mengikutiku! Aku tidak menyukaimu. Kau tahu, ulahmu yang aneh itu sangat menganggu!” kali ini
kesabaranku sudah habis. Hari itu juga aku membentak dan menjelek-jelekan Jongdae. Sebenarnya apa yang ada di
pikirannya sampai dia nekat mengikuti terus. Aku sudah muak dengannya.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan, hah?
Kenapa kau selalu mengikuti kemana aku pergi?!”
“Itu…” dia terdiam. Kulihat wajahnya sangat
gugup.
“Ck… kuharap kau tidak muncul dihadapanku
lagi Jongdae-ssi,”
ucapku setelah itu pergi meninggalkannya. Kukira dia benar-benar tidak akan
mengikutiku lagi, tapi ternyata salah. Pria
menyebalkan.
***
Kami
bereempat berkumpul di cafe.
Seperti biasa, kami selalu mengadakan acara disaat minggu
malam. Lantunan lagu dari penyanyi cafe yang merdu itu membuat hatiku sedikit lebih tenang.
Sesekali Yonhae mengeluarkan bahan candaan yang membuat kami tertawa.
“Apa kalian
sudah dengar kabar kalau Jongdae akan pindah ke China?” Soorim mengalihkan pembicaraan.
Aku mengerutkan dahiku. Dia akan pindah?
“Hah? Kau tahu
dari mana, Soo?” tanya Jae Hee.
“Aku diberi tahu
Ketua Mahasiswa Suho,”
“Baguslah kalau
dia pindah. Jadinya hidupku akan bebas dan tidak akan ada yang menggangguku
lagi,” aku tersenyum menang.
“Kau tidak
sedih? Kau tahu, dia sangat menyukaimu. Jarang-jarang
ada pria yang menyukaimu,” cibir
Yonhae. Aku memeletkan lidahku kepada Yonhae. Anak itu benar-benar.
“Kenapa aku harus sedih. Orang yang
mengganggu hidupku akan pergi,” aku tidak peduli dengan tatapan heran ketiga
sahabatku.
“Aku curiga dia pindah karena penolakan
Heerim,”
Mereka
menatapku dengan pandangan ‘apa itu benar’. Aku hanya mengangkat bahu tidak
peduli. Toh siapa yang peduli dengan anak
menyebalkan itu.
“Kau menolaknya?” tanya Yonhae.
“Yup,
aku muak dengan tingkah anehnya itu,” jawabku santai.
“Sayang sekali. Dia itu baik, manis, dan pintar menyanyi. Kau
akan rugi jika tidak menerimanya,”
“Kalau
kalian terus membahasnya aku pulang sekarang juga!” kenapa mereka jadi menyudutkanku.
Aku tahu Jongdae menyukaiku, tapi jika aku tidak menyukainya apa aku harus
menerimanya dengan terpaksa. Setelah melihat kekesalanku mereka segera
mengalihkan pembicaraan. Baguslah.
***
Sudah
beberapa hari ini Jongdae
tidak mengikutiku. Mungkin
dia mengurus kepergiannya. Senang. Tentu saja aku senang. Tidak ada lagi orang
yang menggangguku dan mengikutiku. Tapi aku juga merasa ada yang kurang. Aku
merasa jika hari-hariku ada yang hilang. Entahlah apa itu. Aku juga tidak tahu.
Aku
melanjutkan langkahku menuju ruang perpustakaan. Sekarang masih pukul empat
sore. Aku kembali melewati tikungan yang dulu pernah kubuat membentak Jongdae dan membuang kotak
pemberiannya. Ingatanku kembali saat dimana aku membentaknya. Saat dia selalu
mengikutiku. Saat dia selalu tersenyum ketika aku membentak dan
meninggalkannya.
“Kenapa aku jadi memikirkannya? Lupakan dia,
Heerim. Dia akan pergi dari
hidupmu!” omelku pada diriku sendiri. Aku kembali berjalan menuju perpustakaan.
Sepi. Jelas saja, hari sudah sore. Mana ada siswa yang mengunjungi perpustakaan
kampus pada sore hari. Hanya ada ajjuhma yang selalu berjaga tempat ini.
“Tumben sekali
pacarmu tidak menemanimu, Heerim,” Lee ajjuhma tersenyum menyapaku. Pacar? Siapa pacarku.
“Ajjuhma bisa saja, aku tidak punya pacar, Lee ajjuhma,” elakku halus sambil membalas
senyumnya.
“Hahaha… tidak
usah menyangkal. Pria itu selalu mengikutimu kalau kau kemari. Siapa
lagi kalau bukan pacarmu jika dia selalu menemanimu sore-sore begini,”
Aku
masih memikirkan kata-kata Lee ajjuhma. Pria
yang selalu mengikutiku. Apakah Jongdae.
Kalau benar dia, artinya Lee ajjuhma salah mengira.
“Maksud ajjuhma, Jongdae?” tanyaku. Lee ajjuhma
mengangguk sambil tersenyum lagi.
“Ah… dia bukan pacarku ajjuhma,” aku
menggeleng meyakinkan.
“Kalau
dia bukan pacarmu, lalu mengapa wajahmu merah sekali? Mengaku saja,” Lee ajjuhma
tertawa. Wajahku merah. Aku memandangi
kaca yang berada di sebelah rak. Benar. Wajahku merah. Kenapa bisa
begitu.
“Haha… lupakan, aku hanya bercanda saja. Apa
kau masih mencari novel yang kau maksud?”
Aku
mengangguk. Lee ajjuhma tersenyum lagi. Dia berbalik dan mengambil sebuah buku
berjudul ‘Love Edelweis’. Hei, itukan novel yang aku cari-cari. Kata anak-anak
lain novel itu belum ada di perpustakaan.
“Itu kan…”
“Ya. Kemarin Jongdae kemari dan memberikan buku ini padaku.
Katanya kalau kau datang aku harus
memberikannya padamu. Ambilah,” aku mengambil buku yang berada di tangan Lee
ajjuhma. Aku hanya menatap Lee ajjuhma dengan tatapan heran.
“Dia juga menitipkan surat. Jongdae meminta kau membacanya
jika dia sudah berangkat ke China. Kau tahu, dia itu anak yang sangat baik.
Kenapa kau tidak menjadi pacarnya
saja?”
“Hah?” aku gelagapan mendengar pernyataan
Lee ajjuhma. Kurasakan wajahku memanas.
“Tidak usah memikirkan kata-kataku tadi. Sekarang kau pulanglah, temui Jongdae
sebelum dia pergi.
Kulihat dia sangat menyukaimu ah, tidak, dia sangat
mencintaimu,”
Aku
kembali menatap Lee ajjuhma.
“Darimana ajjuhma tahu?”
“Hei,
aku sudah bertahun-tahun disini. Dan aku selalu melihat anak-anak muda yang
sedang jatuh cinta. Aku tahu sifat dan gelagat mereka. Tentu saja aku bisa
tahu,”
“Hmm…
terimakasih, Ajjuhma. Aku pamit pulang
dulu,” aku membungkuk lalu keluar dari perpustakaan.
Hari
mulai senja. Aku masih berjalan menyusuri kampus yang sudah sepi. Hanya
terdengar suara anak-anak bermain
basket. Kutatap kembali buku pemberian Jongdae.
Kenapa dia bisa tahu buku yang sedang ku cari. Kata-kata Baekhyun, Lee ajjuhma,
dan ketiga sahabatku kembali terngiang ditelingaku.
“Dia itu sangat mencintaimu. Jangan sampai kecewakan dia,” itu pesan Baekhyun.
“Kau tahu, dia itu selalu berjuang untuk
mendapatkanmu? Kenapa kau selalu menghindarinya?” sekarang suara Jae Hee
memasuki otakku.
“Aku curiga Jongdae pindah karena
penolakanmu,” suara Yonhae membuatku tersentak. Apa jangan-jangan memang benar.
Jongdae pindah karena aku menolaknya
mentah-mentah. Tanpa kusadari air mataku sudah membanjiri wajahku. Kenapa aku
menangis. Kenapa aku merasa ada yang menghilang beberapa hari ini. Kenapa aku
selalu menolaknya. Berbagai pertanyaan keluar begitu saja dalam otakku. Aku
baru menyadarinya. Aku sadar jika aku juga mencintainya. Aku harus cepat
menemui Jongdae.
***
“Baek,
kau tahu kapan Jongdae berangkat?”
kini aku hanya berdua saja bersama Baekhyun. Dia menatapku aneh.
“Kenapa mematapku begitu?”
tanyaku polos.
“Kenapa kau menanyakan Jongdae? Bukannya kau tidak suka dengannya?” perkataan Baekhyun terasa menohok hatiku. Benar,
kenapa aku menanyakannya. Kurasakan Baekhyun merangkulku. Dia tersenyum.
“Kau menyukainya, hum?” dia mengangkat alisnya
menggodaku.
“Ya! A... aku hanya bertanya saja,” aku
mencubit pinggangnya. Tapi dia tidak membalas. Hanya tersenyum dan mengelus
rambutku.
“Dia
berangkat lusa pagi. Kenapa?”
“Baek…” aku
menundukkan kepalaku. Air mulai mengumpul di mataku.
“Hmm?”
“Apa aku
keterlaluan?” gumanku lirih.
“Keterlaluan
kenapa?”
Kurasakan air mataku mulai jatuh. Biarlah, biar air
mataku mengalir.
“Apa
aku keterlaluan sudah menolak Jongdae?
Dia sudah begitu baik padaku. Dia juga sangat sabar walaupun aku selalu menolak
dan membentaknya,” kini aku mulai terisak. Baekhyun merangkulku erat.
“Tidak. Kau tidak keterlaluan,” aku menatap sepupuku yang kini menatap langit.
Dia menoleh dan tersenyum lalu menghapus air mataku.
“Dia selalu bilang padaku, dia tidak akan pernah menyerah untuk
mendapatkanmu. Sekalipun dia harus pergi, dia akan tetap mencintaimu. Jikapun
kau sudah mempunyai seseorang yang selalu berada di sampingmu, dia akan tetap
mencintaimu, walaupun itu harus merelakanmu. Kau tahu, kadang aku sangat
kasihan padanya. Dia rela menyakiti hatinya sendiri hanya demi membuatmu
luluh,”
“Sejahat itukah aku, Baek?”
Aku
hanya bisa menangis mendengar penjelasannya. Aku merasa sangat jahat.
“Ssh… jangan
menangis. Kau tidak sepenuhnya salah. Kau hanya belum
menyadarinya saja,” ujarnya sambil terus menghapus air mataku.
“Baek,
apa aku masih memiliki kesempatan untuk menerimanya?” tanyaku ragu. Baekhyun tersenyum. Matanya berbinar
mendengar pertanyaanku.
“Kau masih mempunyai kesempatan. Besok dia
akan ke kampus untuk mengurus kepindahannya. Temuilah dia,”
“Tapi…
apa dia masih bisa menerimaku?”
“Aku
yakin dia akan menerimamu dengan senang hati,”
Aku
kembali menatap Baekhyun. Dia tersenyum dan menghapus air
mataku.
“Terimakasih,
Baek,” aku memeluknya erat. Aku sangat bersyukur mempunyai sepupu seperti dirinya.
Selalu menghibur dan menyemangatiku.
“Yang kau
butuhkan hanya keyakinan hatimu…” gumannya. Aku mengangguk. Besok aku akan
menemuinya. Menemui Jongdae dan meminta maaf atas penolakanku. Aku
tidak sabar menungu besok.
***
Langit
mendung menemaniku dalam perjalanan ke kampus. Entah kenapa perasaanku sangat
tidak enak. Tapi sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku menatap awan
mendung yang mulai menjatuhkan air-air nya. Untunglah aku tidak tertiggal bus,
jadi aku tidak kehujanan. Bibirku tersenyum saat melihat sosok yang sedang aku
cari. Segera aku turun dari bus. Kulihat dia
melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum dan membalas lambaiannya. Kulangkahkan
kakiku menuju sosoknya yang berada di sebrang.
“Heerim-ah, awas!!” sebelum aku
menyadari apa yang terjadi tubuhku sudah terpelanting ke pinggir jalan.
Kepalaku terasa pusing. Samar-samar aku melihat tubuh Jongdae yang penuh darah ditengah jalan.
Orang-orang mengerumuninya. Dan setelah itu aku
tidak mengingat apa-apa lagi.
***
Ugh…
kepalaku terasa sangat berat. Kakiku juga sangat sakit jika digerakan.
Sekelilingku serba putih. Dimana ini. Aku kembali mengingat apa yang terjadi.
Saat aku menyebrang, dan aku terpelanting. Jongdae yang penuh darah.
“Jongdae… aw…” aku merasa kepakalu sangat
sakit. Aku ingat semuanya. Jongdae
menolongku saat ada mobil yang akan menabrakku. Baekhyun menghampiriku, dibelakangnya juga ada ketiga
sahabatku. Lalu ada beberapa lagi aku tidak tahu.
“Kau sudah bangun, Heerim? Jangan banyak bergerak dulu,
kepala dan lututmu terbentur sangat keras,” ujarnya.
“Dimana Jongdae,
Baek? Aku mau
bertemu dengannya,” gumanku lirih. Air mataku mulai keluar.
“Dia baik-baik saja. Dia sedang dirawat,”
“Aku mau
bertemu dengannya, Baek. Kumohon,”
aku menatapnya berharap. Baekhyun menghela nafasnya.
“Tapi…”
“Kumohon...”
Ia
hanya mengangguk dan mengambilkan kursi roda. Dia menggendongku dan
mendudukanku ke kursi roda.
“Kenapa
dengan Jongdae?” tanyaku khawatir.
“Dia...
Jongdae tidak apa-apa,” jawabannya terdengar ragu.
Aku makin khawatir dengan keadaan
Jongdae. Terakhir aku melihatnya dia sudah
berlumuran darah. Kami berhenti di depan sebuah ruangan. Seorang ajjuhma
menghampiri kami berdua, dia tersenyum padaku dan membelai wajahku.
“Masuklah, dia sudah menunggumu” bisiknya. Jongdae menungguku. Baekhyun
mendorong kursi roda ke sebuah ranjang. Disana terbaring Jongdae yang tertidur. Entah dia
tidur atau hanya memejamkan matanya.
“Dae,
bangunlah. Kami ada di sini,” aku
bisa mendengar bisikan Baekhyun. Jongdae
membuka matanya dan tersenyum padaku.
“Aku tinggal, ya,” bisik Baaekhyun. Aku mengangguk. Dia menepuk
pelan bahu Jongdae,
memberinya semangat.
“Halo,
Heerim-ah. Bagaimana keadaanmu?”
tanyanya setelah Baekhyun keluar.
Aku merasakan air mataku berkumpul kembali.
“A… aku baik-baik saja, Jongdae-ssi” jawabku menahan
isakan.
“Hei, panggil
aku Dae saja,”
ujarnya lirih. Aku mengangguk. Banyak sekali perban
yang melilit tubuhnya. Aku tak kuasa lagi menahan air mataku.
“Jagan
menangis,” tangannya berusaha menghapus air mataku. Aku semakin deras
mengeluarkan air mata.
“Maaf... aku bena-benar minta maaf…
selama ini aku selalu menutup hatiku. Aku
minta maaf…”
“Sst… jangan
menangis. Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu
lagi,”
“Tapi
aku sangat bersalah, Dae. Kau sudah sangat sabar menungguku. Dan sekarang aku
baru sadr jika
aku juga mencintaimu,” isakanku makin keras. Kulihat Jongdae hanya
tersenyum memandangku. Dia mengambil sebuah kotak yang dulu pernah kubuang.
“Lupakan hal
yang dulu. Dulu adalah dulu, sekarang adalah sekarang. Heerim-ah, aku ingin kau
menerima ini,” Jongdae memberikan sebuah kotak sedang kepadaku. Dia mengusap
air mataku. Tatapannya sangat lembut, dan senyum manisnya. Aku sangat suka
dengan senyumnya.
“Kemarilah,”
“Ya?”
“Mendekatlah
padaku,” aku mengangguk dan memutar roda mendekatinya. Dia
menggengam tangaku erat. Tangannya yang satu membelai wajahku yang sudah penuh
dengan air mata.
“Heerim, kau sangat mencintaiku?” aku
tersentak kaget dengan pertanyaannya. Aku mengangguk yakin.
“Aku sangat mencintaimu, Dae. Maaf kalau aku terlambat,” jawabku lirih. Dia kembali tersenyum.
“Sudahlah, kau tidak terlambat,”
Hening.
“Aku tidak akan memintamu untuk menjadi kekasihku,”
ujarnya. Kali ini aku kata-katanya benar-benar membuat hatiku sakit.
“Kenapa?
Kenapa, Dae?”
“Aku tidak ingin
menyakitimu, Heerim,” ucapnya lirih.
“Kau
tidak menyakitiku,” aku merasakan perasaan tidak enak. Aku takut jika terjadi
apa-apa dengannya. Aku menggenggam erat tangannya.
“Aku ingin kau menjaga benda yang ada di
dalam kotak itu,”
“Kau bicara apa?
Jangan membuatku bingung,” sentakku.
“Berjanjilah
padaku, kau harus tetap tersenyum, kau tidak boleh menangis,”
“Dae… kau tidak akan
meninggalkanku, kan?”
Dia hanya tersenyum. Ia
membawaku kedalam pelukannya. Berkali-kali Jongdae mencium kepalaku aku dapat
merasakan kehangatan tubuhnya.
“Waktuku tidak banyak lagi, Heerim-ah. jaga dirimu dengan baik,
aku mencintaimu. Aku mencintaimu,
Heerim-ah,”
Pelukannya
melemah. Aku mengangkat tubuhku. Kulihat bibir pucatnya tersenyum. Air mataku
tumpah begitu saja.
“Dae-ie! Jangan bercanada, itu tidak lucu! Dae-ie, kumohon
bangun! Kim Jongdae!” aku terus menguncang-guncangkan tubuh
kakunya dan berteriak agar dia bangun.
Seorang dokter masuk diikuti beberapa suster dan Baekhyun. Baekhyun berusaha
menjauhkan tubuhku dan membawaku keluar. Dia memelukku mencoba memberikanku
ketenangan. Aku terus menangis dalam pelukannya. Kau begitu bodoh Heerim. Kau
mengacuhkan orang yang begitu mencintaimu. Kau selalu membetaknya. Kau bodoh
Heerim. Aku terus merutuki kebodohanku.
Flashback
end
***
Setelah
upacara pemakaman Jongdae,
aku sama sekali belum membuka kotak yang ia berikan. Aku masih belum bisa menerima kepergiannya yang
bagiku begitu cepat. Disaat aku mulai mencintainya, dia sudah pergi
meninggalkanku. Perlahan aku membuka pita yang terikat rapi, aku membuka tutup
kotak itu. Terdapat sebuah kalung berbentuk bunga edelweis, dan ada selembar
kertas yang tergulung di dalamnya. Aku mulai membuka gulungan itu. Dan mulai
membacanya.
Annyeong Heerim-ah,
Mungkin
saat kau membaca surat ini aku sudah pergi
Sebenarnya
aku ingin memberikan kalung ini saat ulang tahunmu, tapi aku terlalu malu
Hehehe…
Maaf aku selalu mengikutimu. Maaf selalu
membuatmu kesal
Aku berencana untuk pidah ke
China
Jangan berpikir aku
pindah karena kau kesal padaku, tidak
Kakakku di China
ingin aku menemaninya disana
Tenang, aku tidak akan
melupakanmu. Aku akan tetap mencintaimu walaupun kita berjarak sangat jauh
Kau juga sangat menginginkan
novel berjudul Love Edelwis kan?
Aku harap kau menyukai novel
pemberianku, kebetulan temanku berkerja menjadi manager sebuah toko buku
Dan aku meminta bantuannya
untuk mencarikan buku itu
Hehe…
Sepertinya aku tidak modal, ya. Meminta tolong pada
temanku
Aku
tersenyum kecil membacanya.
Sepertinya hanya segini saja
Aku tidak pandai membuat
kata-kata
Aku hanya ingin kau
menggunakan kalung pemberianku
Sekali lagi aku minta maaf
padamu
Kim Jong Dae
Air mataku mengalir kembali. Kini ku ambil
sebuah buku dan surat pemberian Lee ajjuhma. Ku buka surat pemberian Chen.
Annyeong Heerim,
Mungkin kau tidak menyukai
buku pemberianku
Maka aku titipkan saja pada
Lee ajjuhma
Aku
terlalu takut untuk bertemu denganmu
Aku hanya tidak ingin kau
merasa terganggu lagi
Dan sebentar lagi aku akan
pindah ke China
Maaf sudah mengganggumu
Aku hanya ingin mengatakan
jika aku sangat mencintaimu
Aku
sangat menyukai senyum manismu
Kuharap
senyum itu selalu menempel di wajah manismu
Berjanjilah,
Kim Jong Dae
“Aku
juga mencintaimu, Dae,” gumanku. Aku kembali
melipat surat itu. Kini aku memasang kalung pemberian Jongdae. Aku tersenyum melihat
bandul berbentuk edelweis.
“ Kau melihatnya, Dae? Aku akan terus tersenyum. Aku yakin kau bisa melihatku dari sana. Terimakasih atas
cintamu, Dae. aku
akan slalu menyimpannya,” aku menatap langit dan merasakan semilir angin menerpa
wajahku.
-END-
Kkkk~
ini salah satu fanfiction saya :)
silahkan dibaca dan mohon kasih komentar
saya masih abal-abal salam hal fanfiction hehe
ini salah satu fanfiction saya :)
silahkan dibaca dan mohon kasih komentar
saya masih abal-abal salam hal fanfiction hehe

Sebebarnya ceritanya sedih tapi saya senyum terus bacanya.
BalasHapus