Valentine's Day Pumping Heart

Selasa, 15 Juli 2014

Fanfiction : Last Gift





Author                        : DaeKim
Title                            : Last Gift
Genre                         : Romance, sad
Cast                            : Lee Heerim
                                      Kim Jong dae
                                      Byun Baekhyun



Aku menatap kotak kecil yang berada di genggangmanku. Senyumku menyungging saat mengingat siapa yang memberikan kotak ini. tak terasa air mataku menetes. Entah kenapa aku selalu menangis jika melihat kotak kecil ini. Sebenarnya bukan masalah kotak ini, tapi seseorang yang memberikan kotak kecil ini. Ingatanku kembali pada kejadian dua bulan lalu. Kejadian dimana seseorang yang kusia-siakan menyelamatkan nyawaku.

***



Flashback

Seperti biasa, dia selalu mengikuti kemana aku pergi. Argh… sebenarnya ada apa dengan orang itu. Aku berbalik kesal dan menatapnya garang. Sedangkan dia hanya tersenyum manis seperti biasa.
   “Jongdae-ssi, kenapa kau mengikutiku terus? Sebenarnya apa maumu?”
Bukannya menjawab, dia malah mendekatiku. Tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Aku memutar mataku kesal.
   “Cepatlah! Aku tidak ada waktu!” sentakku kesal. Sebenarnya dia itu orang seperti apa. Padahal aku sudah menyentaknya berkali-kali, bahkan aku selalu meledeknya. Tapi dia sama sekali tidak merasa kesal dan membenciku. Malah sebaliknya, dia semakin gencar mengikutiku.
   “Aku hanya ingin memberimu ini,” kulihat Jongdae memberiku sebuah kotak berukuran sedang. Aku melotot kesal. Jadi dia menghantuiku hanya untuk memberiku kotak bodoh ini?
   “Ck… kau sudah membuang-buang waktuku! Sudahlah, lupakan kadomu itu. Benar-benar menganggu!” dengan kesal kubuang kotak pemberiannya. Aku kembali melanjutkan perjalananku yang tertunda. Saat berada ditikungan aku melirik kebelakang. Jongdae itu masih berdiri ditempatnya sambil memegang kotak yang aku buang tadi. Dia tersenyum. Dia tersenyum? Walaupun aku sudah membentaknya dia masih saja tersenyum. Anak aneh.

***

Setelah kejadian membentak dan membuang hadiah pemberiannya kini aku bisa bebas. Kim Jongdae, anak itu tidak membuntutiku lagi. Aku patut bersyukur, setidaknya dia sadar dan tidak akan pernah membututi aku lagi.
   Tumben pangeranmu itu tidak membututimu lagi, Heerim-ah,” aku hanya tersenyum kecut mendengar ledekan Jae Hee.
   “Mungkin anak itu sadar jika penantiannya sia-sia,” gumanku yang sepertinya dapat didengar telinga mereka. Kini aku sedang berkumpul dengan ketiga sahabatku. Mereka selalu saja meledekku dengan Jongdae.
   “Kau selalu saja menghindar, Heerim. Dia itu namja yang baik. Setidaknya itu yang kudengar dari Luhan sunbae,” masih kuingat kata-kata Yonhae. Ya, aku tahu dia itu namja yang baik. Aku juga sudah dengar dari Baekhyun, sepupuku sekaligus teman dekat Jongdae.
   “Melamunkan Jongdae, Heerim?”
   “Eh…”
Mereka bertiga tertawa melihat tampang polosku. Aku hanya menatap mereka bingung.
   “Aku tidak melamunkan anak aneh itu. Ck… buat apa aku melamunkannya,” elakku. Walau sebenarnya aku memang sedang melamunkannya.
   “Lantas, kau sedang melamunkan apa?” giliran  Soorim yang menggodaku. Ckck… mereka bertiga itu hobi sekali menggodaku.
   “Aku pulang duluan,” untunglah otakku cepat berpikir. Jadi mereka tidak akan curiga.
   “Jam segini? Tumben sekali,” cibir Yonhae.
   “Memangnya tidak boleh, huh? Sudahlah, aku sedang tidak mood untuk mendengar ocehan kalian,” aku segera menyambar tas selempangku dan keluar kelas. Hari yang menyebalkan. Aku melihat jam tanganku. Masih pukul tiga. Benar juga, tumben sekali aku pulang seawal ini. Biasanya aku selalu pulang pukul lima lebih.
   “Enaknya aku pergi kemana dulu,” gumanku kesal. Dengan sedikit malas aku membawa kakiku ke lapangan basket. Disana banyak sekali gadis yang sedang menonton permainan basket.
   “Hei, Heerim-ah,”
Aku membulatkan mataku saat melihat siapa yang memanggilku tadi. Jongdae. Argh… kenapa namja itu hadir lagi. Bukannya dia sudah tidak mengikutiku lagi hari ini.
   “Mau apa lagi,” tanyaku dingin. Dia hanya menujukkan senyum manisnya. Walaupun aku tidak suka dengannya, ku akui dia memiliki senyum yang manis.
   “Tidak. Aku hanya ingin memberikanmu hadiah ini. Kumohon terimalah,” rengeknya. Dia mulai berani menggenggam tanganku.
   “Tidak mau! Kau ini apa-apaan, sih?” aku menyentak tangannya dengan kasar. Moodku yang tadinya jelek sekarang bertambah jelek.
   “Kim Jongdae-ssi, berhentilah mengikutiku! Aku tidak menyukaimu. Kau tahu, ulahmu yang aneh itu sangat menganggu!” kali ini kesabaranku sudah habis. Hari itu juga aku membentak dan menjelek-jelekan Jongdae. Sebenarnya apa yang ada di pikirannya sampai dia nekat mengikuti terus. Aku sudah muak dengannya.
   “Sebenarnya apa yang kau inginkan, hah? Kenapa kau selalu mengikuti kemana aku pergi?!”
   “Itu…” dia terdiam. Kulihat wajahnya sangat gugup.
   “Ck… kuharap kau tidak muncul dihadapanku lagi Jongdae-ssi,” ucapku setelah itu pergi meninggalkannya. Kukira dia benar-benar tidak akan mengikutiku lagi, tapi ternyata salah. Pria menyebalkan.

***

Kami bereempat berkumpul di cafe. Seperti biasa, kami selalu mengadakan acara disaat minggu malam. Lantunan lagu dari penyanyi cafe yang merdu itu membuat hatiku sedikit lebih tenang. Sesekali Yonhae mengeluarkan bahan candaan yang membuat kami tertawa.
   “Apa kalian sudah dengar kabar kalau Jongdae akan pindah ke China?” Soorim mengalihkan pembicaraan. Aku mengerutkan dahiku. Dia akan pindah?
   “Hah? Kau tahu dari mana, Soo?” tanya Jae Hee.
   “Aku diberi tahu Ketua Mahasiswa Suho,”
   “Baguslah kalau dia pindah. Jadinya hidupku akan bebas dan tidak akan ada yang menggangguku lagi,” aku tersenyum menang.
   “Kau tidak sedih? Kau tahu, dia sangat menyukaimu. Jarang-jarang ada pria yang menyukaimu,” cibir Yonhae. Aku memeletkan lidahku kepada Yonhae. Anak itu benar-benar.
   “Kenapa aku harus sedih. Orang yang mengganggu hidupku akan pergi,” aku tidak peduli dengan tatapan heran ketiga sahabatku.
   “Aku curiga dia pindah karena penolakan Heerim,”
Mereka menatapku dengan pandangan ‘apa itu benar’. Aku hanya mengangkat bahu tidak peduli. Toh siapa yang peduli dengan anak menyebalkan itu.
   “Kau menolaknya?” tanya Yonhae.
   “Yup, aku muak dengan tingkah anehnya itu,” jawabku santai.
   “Sayang sekali. Dia itu baik, manis, dan pintar menyanyi. Kau akan rugi jika tidak menerimanya,”
   “Kalau kalian terus membahasnya aku pulang sekarang juga!” kenapa mereka jadi menyudutkanku. Aku tahu Jongdae menyukaiku, tapi jika aku tidak menyukainya apa aku harus menerimanya dengan terpaksa. Setelah melihat kekesalanku mereka segera mengalihkan pembicaraan. Baguslah.

***

Sudah beberapa hari ini Jongdae tidak mengikutiku. Mungkin dia mengurus kepergiannya. Senang. Tentu saja aku senang. Tidak ada lagi orang yang menggangguku dan mengikutiku. Tapi aku juga merasa ada yang kurang. Aku merasa jika hari-hariku ada yang hilang. Entahlah apa itu. Aku juga tidak tahu.
  
Aku melanjutkan langkahku menuju ruang perpustakaan. Sekarang masih pukul empat sore. Aku kembali melewati tikungan yang dulu pernah kubuat membentak Jongdae dan membuang kotak pemberiannya. Ingatanku kembali saat dimana aku membentaknya. Saat dia selalu mengikutiku. Saat dia selalu tersenyum ketika aku membentak dan meninggalkannya.
   “Kenapa aku jadi memikirkannya? Lupakan dia, Heerim. Dia akan pergi dari hidupmu!” omelku pada diriku sendiri. Aku kembali berjalan menuju perpustakaan. Sepi. Jelas saja, hari sudah sore. Mana ada siswa yang mengunjungi perpustakaan kampus pada sore hari. Hanya ada ajjuhma yang selalu berjaga tempat ini.
   “Tumben sekali pacarmu tidak menemanimu, Heerim,” Lee ajjuhma tersenyum menyapaku. Pacar? Siapa pacarku.
   “Ajjuhma bisa saja, aku tidak punya pacar, Lee ajjuhma,” elakku halus sambil membalas senyumnya.
   “Hahaha… tidak usah menyangkal. Pria itu selalu mengikutimu kalau kau kemari. Siapa lagi kalau bukan pacarmu jika dia selalu menemanimu sore-sore begini,”
Aku masih memikirkan kata-kata Lee ajjuhma. Pria yang selalu mengikutiku. Apakah Jongdae. Kalau benar dia, artinya Lee ajjuhma salah mengira.
   “Maksud ajjuhma, Jongdae?” tanyaku. Lee ajjuhma mengangguk sambil tersenyum lagi.
   “Ah… dia bukan pacarku ajjuhma,” aku menggeleng meyakinkan.
   “Kalau dia bukan pacarmu, lalu mengapa wajahmu merah sekali? Mengaku saja,” Lee ajjuhma tertawa. Wajahku merah. Aku memandangi  kaca yang berada di sebelah rak. Benar. Wajahku merah. Kenapa bisa begitu.
   “Haha… lupakan, aku hanya bercanda saja. Apa kau masih mencari novel yang kau maksud?”
Aku mengangguk. Lee ajjuhma tersenyum lagi. Dia berbalik dan mengambil sebuah buku berjudul ‘Love Edelweis’. Hei, itukan novel yang aku cari-cari. Kata anak-anak lain novel itu belum ada di perpustakaan.
   “Itu kan…”
   “Ya. Kemarin Jongdae kemari dan memberikan buku ini padaku. Katanya kalau kau datang aku harus memberikannya padamu. Ambilah,” aku mengambil buku yang berada di tangan Lee ajjuhma. Aku hanya menatap Lee ajjuhma dengan tatapan heran.
   “Dia juga menitipkan surat. Jongdae meminta kau membacanya jika dia sudah berangkat ke China. Kau tahu, dia itu anak yang sangat baik. Kenapa kau tidak menjadi pacarnya saja?”
   “Hah?” aku gelagapan mendengar pernyataan Lee ajjuhma. Kurasakan wajahku memanas.
   “Tidak usah memikirkan kata-kataku tadi. Sekarang kau pulanglah, temui Jongdae sebelum dia pergi. Kulihat dia sangat menyukaimu ah, tidak, dia sangat mencintaimu,”
Aku kembali menatap Lee ajjuhma.
   “Darimana ajjuhma tahu?”
   “Hei, aku sudah bertahun-tahun disini. Dan aku selalu melihat anak-anak muda yang sedang jatuh cinta. Aku tahu sifat dan gelagat mereka. Tentu saja aku bisa tahu,”
   “Hmm… terimakasih, Ajjuhma. Aku pamit pulang dulu,” aku membungkuk lalu keluar dari perpustakaan.

Hari mulai senja. Aku masih berjalan menyusuri kampus yang sudah sepi. Hanya terdengar suara anak-anak bermain basket. Kutatap kembali buku pemberian Jongdae. Kenapa dia bisa tahu buku yang sedang ku cari. Kata-kata Baekhyun, Lee ajjuhma, dan ketiga sahabatku kembali terngiang ditelingaku.
   “Dia itu sangat mencintaimu. Jangan sampai kecewakan dia,” itu pesan Baekhyun.
   “Kau tahu, dia itu selalu berjuang untuk mendapatkanmu? Kenapa kau selalu menghindarinya?” sekarang suara Jae Hee memasuki otakku.
   “Aku curiga Jongdae pindah karena penolakanmu,” suara Yonhae membuatku tersentak. Apa jangan-jangan memang benar. Jongdae pindah karena aku menolaknya mentah-mentah. Tanpa kusadari air mataku sudah membanjiri wajahku. Kenapa aku menangis. Kenapa aku merasa ada yang menghilang beberapa hari ini. Kenapa aku selalu menolaknya. Berbagai pertanyaan keluar begitu saja dalam otakku. Aku baru menyadarinya. Aku sadar jika aku juga mencintainya. Aku harus cepat menemui Jongdae.

***

   “Baek, kau tahu kapan Jongdae berangkat?” kini aku hanya berdua saja bersama Baekhyun. Dia menatapku aneh.
   “Kenapa mematapku begitu?” tanyaku polos.
   “Kenapa kau menanyakan Jongdae? Bukannya kau tidak suka dengannya?” perkataan Baekhyun terasa menohok hatiku. Benar, kenapa aku menanyakannya. Kurasakan Baekhyun merangkulku. Dia tersenyum.
   “Kau menyukainya, hum?” dia mengangkat alisnya menggodaku.
   “Ya! A... aku hanya bertanya saja,” aku mencubit pinggangnya. Tapi dia tidak membalas. Hanya tersenyum dan mengelus rambutku.
   “Dia berangkat lusa pagi. Kenapa?”
   “Baek…” aku menundukkan kepalaku. Air mulai mengumpul di mataku.
   “Hmm?”
   “Apa aku keterlaluan?” gumanku lirih.
   “Keterlaluan kenapa?”
Kurasakan air mataku mulai jatuh. Biarlah, biar air mataku mengalir.
   “Apa aku keterlaluan sudah menolak Jongdae? Dia sudah begitu baik padaku. Dia juga sangat sabar walaupun aku selalu menolak dan membentaknya,” kini aku mulai terisak. Baekhyun merangkulku erat.
   “Tidak. Kau tidak keterlaluan,” aku menatap sepupuku yang kini menatap langit. Dia menoleh dan tersenyum lalu menghapus air mataku.
   “Dia selalu bilang padaku, dia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu. Sekalipun dia harus pergi, dia akan tetap mencintaimu. Jikapun kau sudah mempunyai seseorang yang selalu berada di sampingmu, dia akan tetap mencintaimu, walaupun itu harus merelakanmu. Kau tahu, kadang aku sangat kasihan padanya. Dia rela menyakiti hatinya sendiri hanya demi membuatmu luluh,”
   “Sejahat itukah aku, Baek?”
Aku hanya bisa menangis mendengar penjelasannya. Aku merasa sangat jahat.
   “Ssh… jangan menangis. Kau tidak sepenuhnya salah. Kau hanya belum menyadarinya saja,” ujarnya sambil terus menghapus air mataku.
   “Baek, apa aku masih memiliki kesempatan untuk menerimanya?” tanyaku ragu. Baekhyun tersenyum. Matanya berbinar mendengar pertanyaanku.
   “Kau masih mempunyai kesempatan. Besok dia akan ke kampus untuk mengurus kepindahannya. Temuilah dia,”
   “Tapi… apa dia masih bisa menerimaku?”
   “Aku yakin dia akan menerimamu dengan senang hati,”
Aku kembali menatap Baekhyun. Dia tersenyum dan menghapus air mataku.
   “Terimakasih, Baek,” aku memeluknya erat. Aku sangat bersyukur mempunyai sepupu seperti dirinya. Selalu menghibur dan menyemangatiku.
   “Yang kau butuhkan hanya keyakinan hatimu…” gumannya. Aku mengangguk. Besok aku akan menemuinya. Menemui Jongdae dan meminta maaf atas penolakanku. Aku tidak sabar menungu besok.

***

Langit mendung menemaniku dalam perjalanan ke kampus. Entah kenapa perasaanku sangat tidak enak. Tapi sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku menatap awan mendung yang mulai menjatuhkan air-air nya. Untunglah aku tidak tertiggal bus, jadi aku tidak kehujanan. Bibirku tersenyum saat melihat sosok yang sedang aku cari. Segera aku turun dari bus. Kulihat dia melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum dan membalas lambaiannya. Kulangkahkan kakiku menuju sosoknya yang berada di sebrang.
   “Heerim-ah, awas!!” sebelum aku menyadari apa yang terjadi tubuhku sudah terpelanting ke pinggir jalan. Kepalaku terasa pusing. Samar-samar aku melihat tubuh Jongdae yang penuh darah ditengah jalan. Orang-orang mengerumuninya. Dan setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi.

***

Ugh… kepalaku terasa sangat berat. Kakiku juga sangat sakit jika digerakan. Sekelilingku serba putih. Dimana ini. Aku kembali mengingat apa yang terjadi. Saat aku menyebrang, dan aku terpelanting. Jongdae yang penuh darah.
   “Jongdae… aw…” aku merasa kepakalu sangat sakit. Aku ingat semuanya. Jongdae menolongku saat ada mobil yang akan menabrakku. Baekhyun  menghampiriku, dibelakangnya juga ada ketiga sahabatku. Lalu ada beberapa lagi aku tidak tahu.
   “Kau sudah bangun, Heerim? Jangan banyak bergerak dulu, kepala dan lututmu terbentur sangat keras,” ujarnya.
   “Dimana Jongdae, Baek? Aku mau bertemu dengannya,” gumanku lirih. Air mataku mulai keluar.
   “Dia baik-baik saja. Dia sedang dirawat,”
   “Aku mau bertemu dengannya, Baek. Kumohon,” aku menatapnya berharap. Baekhyun menghela nafasnya.
   “Tapi…”
   “Kumohon...
Ia hanya mengangguk dan mengambilkan kursi roda. Dia menggendongku dan mendudukanku ke kursi roda.
   “Kenapa dengan Jongdae?” tanyaku khawatir.
   “Dia... Jongdae tidak apa-apa,” jawabannya terdengar ragu. Aku makin khawatir dengan keadaan Jongdae. Terakhir aku melihatnya dia sudah berlumuran darah. Kami berhenti di depan sebuah ruangan. Seorang ajjuhma menghampiri kami berdua, dia tersenyum padaku dan membelai wajahku.  
   “Masuklah, dia sudah menunggumu” bisiknya. Jongdae menungguku. Baekhyun mendorong kursi roda ke sebuah ranjang. Disana terbaring Jongdae yang tertidur. Entah dia tidur atau hanya memejamkan matanya.
   “Dae, bangunlah. Kami ada di sini,” aku bisa mendengar bisikan Baekhyun. Jongdae membuka matanya dan tersenyum padaku.
   “Aku tinggal, ya,” bisik Baaekhyun. Aku mengangguk. Dia menepuk pelan bahu Jongdae, memberinya semangat.
   “Halo, Heerim-ah. Bagaimana keadaanmu?” tanyanya setelah Baekhyun keluar. Aku merasakan air mataku berkumpul kembali.
   “A… aku baik-baik saja, Jongdae-ssi” jawabku menahan isakan.
   Hei, panggil aku Dae saja,” ujarnya lirih. Aku mengangguk. Banyak sekali perban yang melilit tubuhnya. Aku tak kuasa lagi menahan air mataku.
   “Jagan menangis,” tangannya berusaha menghapus air mataku. Aku semakin deras mengeluarkan air mata.
   “Maaf... aku bena-benar minta maaf… selama ini aku selalu menutup hatiku. Aku minta maaf…”
   “Sst… jangan menangis. Aku sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi,”
   “Tapi aku sangat bersalah, Dae. Kau sudah sangat sabar menungguku. Dan sekarang aku baru sadr jika aku juga mencintaimu,” isakanku makin keras. Kulihat Jongdae hanya tersenyum memandangku. Dia mengambil sebuah kotak yang dulu pernah kubuang.
   “Lupakan hal yang dulu. Dulu adalah dulu, sekarang adalah sekarang. Heerim-ah, aku ingin kau menerima ini,” Jongdae memberikan sebuah kotak sedang kepadaku. Dia mengusap air mataku. Tatapannya sangat lembut, dan senyum manisnya. Aku sangat suka dengan senyumnya.
   “Kemarilah,”
   “Ya?”
   “Mendekatlah padaku,” aku mengangguk dan memutar roda mendekatinya. Dia menggengam tangaku erat. Tangannya yang satu membelai wajahku yang sudah penuh dengan air mata.
   “Heerim, kau sangat mencintaiku?” aku tersentak kaget dengan pertanyaannya. Aku mengangguk yakin.
   Aku sangat mencintaimu, Dae. Maaf kalau aku terlambat,” jawabku lirih. Dia kembali tersenyum.
   “Sudahlah, kau tidak terlambat,”
Hening.
   “Aku tidak akan memintamu untuk menjadi kekasihku,” ujarnya. Kali ini aku kata-katanya benar-benar membuat hatiku sakit.
   “Kenapa? Kenapa, Dae?”
   “Aku tidak ingin menyakitimu, Heerim,” ucapnya lirih.
   “Kau tidak menyakitiku,” aku merasakan perasaan tidak enak. Aku takut jika terjadi apa-apa dengannya. Aku menggenggam erat tangannya.
   “Aku ingin kau menjaga benda yang ada di dalam kotak itu,”
   Kau bicara apa? Jangan membuatku bingung,” sentakku.
   “Berjanjilah padaku, kau harus tetap tersenyum, kau tidak boleh menangis,”
   Dae… kau tidak akan meninggalkanku, kan?”
Dia hanya tersenyum. Ia membawaku kedalam pelukannya. Berkali-kali Jongdae mencium kepalaku aku dapat merasakan kehangatan tubuhnya.
   “Waktuku tidak banyak lagi, Heerim-ah. jaga dirimu dengan baik, aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Heerim-ah,
Pelukannya melemah. Aku mengangkat tubuhku. Kulihat bibir pucatnya tersenyum. Air mataku tumpah begitu saja.
   “Dae-ie! Jangan bercanada, itu tidak lucu! Dae-ie, kumohon bangun! Kim Jongdae!” aku terus menguncang-guncangkan tubuh kakunya dan berteriak agar dia bangun. Seorang dokter masuk diikuti beberapa suster dan Baekhyun. Baekhyun berusaha menjauhkan tubuhku dan membawaku keluar. Dia memelukku mencoba memberikanku ketenangan. Aku terus menangis dalam pelukannya. Kau begitu bodoh Heerim. Kau mengacuhkan orang yang begitu mencintaimu. Kau selalu membetaknya. Kau bodoh Heerim. Aku terus merutuki kebodohanku.

Flashback end

***

Setelah upacara pemakaman Jongdae, aku sama sekali belum membuka kotak yang ia berikan. Aku masih belum bisa menerima kepergiannya yang bagiku begitu cepat. Disaat aku mulai mencintainya, dia sudah pergi meninggalkanku. Perlahan aku membuka pita yang terikat rapi, aku membuka tutup kotak itu. Terdapat sebuah kalung berbentuk bunga edelweis, dan ada selembar kertas yang tergulung di dalamnya. Aku mulai membuka gulungan itu. Dan mulai membacanya.

Annyeong Heerim-ah,
Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah pergi
Sebenarnya aku ingin memberikan kalung ini saat ulang tahunmu, tapi aku terlalu malu
Hehehe…

Maaf aku selalu mengikutimu. Maaf selalu membuatmu kesal

Aku berencana untuk pidah ke China
Jangan berpikir aku pindah karena kau kesal padaku, tidak
Kakakku di China ingin aku menemaninya disana

Tenang, aku tidak akan melupakanmu. Aku akan tetap mencintaimu walaupun kita berjarak sangat jauh

Kau juga sangat menginginkan novel berjudul Love Edelwis kan?
Aku harap kau menyukai novel pemberianku, kebetulan temanku berkerja menjadi manager sebuah toko buku
Dan aku meminta bantuannya untuk mencarikan buku itu
Hehe…
Sepertinya aku tidak modal, ya. Meminta tolong pada temanku

Aku tersenyum kecil membacanya.

Sepertinya hanya segini saja
Aku tidak pandai membuat kata-kata
Aku hanya ingin kau menggunakan kalung pemberianku
Sekali lagi aku minta maaf padamu

Kim Jong Dae

  Air mataku mengalir kembali. Kini ku ambil sebuah buku dan surat pemberian Lee ajjuhma. Ku buka surat pemberian Chen.

Annyeong Heerim,

Mungkin kau tidak menyukai buku pemberianku
Maka aku titipkan saja pada Lee ajjuhma
Aku terlalu takut untuk bertemu denganmu

Aku hanya tidak ingin kau merasa terganggu lagi
Dan sebentar lagi aku akan pindah ke China
Maaf sudah mengganggumu

Aku hanya ingin mengatakan jika aku sangat mencintaimu
Aku sangat menyukai senyum manismu
Kuharap senyum itu selalu menempel di wajah manismu
Berjanjilah,

Kim Jong Dae

   “Aku juga mencintaimu, Dae,” gumanku. Aku kembali melipat surat itu. Kini aku memasang kalung pemberian Jongdae. Aku tersenyum melihat bandul berbentuk edelweis.
   “ Kau melihatnya, Dae? Aku akan terus tersenyum. Aku yakin kau bisa melihatku dari sana. Terimakasih atas cintamu, Dae. aku akan slalu menyimpannya,” aku menatap langit dan merasakan semilir angin menerpa wajahku.


-END-


Kkkk~
ini salah satu fanfiction saya :)
silahkan dibaca dan mohon kasih komentar
saya masih abal-abal salam hal fanfiction hehe

1 komentar: